KlinKlin Indonesia merupakan jasa cleaning service panggilan no.1 di Indonesia. Kami melayani jasa bersih kost Bandung, jasa bersih rumah Bandung dan cleaning service Bandung. Cabang kami tersebar di berbagai wilayah seperti cleaning service jakarta, bandung, jogja, surabaya, malang, semarang, balikpapan, bontang dan lainnya. Hubungi 085877678008
Showing posts with label minyak. Show all posts
Showing posts with label minyak. Show all posts

Pencatatan Minyak Hasil Produksi Pertamina di Luar Negeri Akan Diubah


JAKARTA. Pemerintah mengambil sejumlah kebijakan untuk mengempiskan defisit neraca perdagangan. Salah satunya dengan mengubah sistem pencatatan minyak hasil produksi PT Pertamina yang masuk ke Indonesia.





Keputusan tersebut dibuat oleh Menteri Koordinator (Menko) Ekonomi Darmin Nasution dalam rapat koordinasi yang berlangsung Rabu (22/5). "Sebetulnya, defisit migas kita tidak terlalu lebar. Masyarakat perlu tahu bahwa hasil eksplorasi minyak yang dilakukan Pertamina di luar negeri dan di bawa ke dalam negeri, selama ini tercatat sebagai barang impor. Ini yang menyebabkan defisit neraca perdagangan menjadi lebar," jelas Darmin.





Untuk itu, Darmin menetapkan impor minyak mentah hasil investasi dari Pertamina di luar negeri tetap dicatat sebagai impor, di neraca perdagangan. Hanya saja, hasil investasi dari Pertamina di luar negeri, harus dicatat sebagai pendapatan primer di neraca pembayaran.





Kedua pencatatan tersebut sesuai dengan standar Internasional Merchandise Trade Statistic (IMTS) dan standar Balance of Payment Manual International Monetary Fund (IMF). "Pertamina kan investasi dan eksplorasi di Aljazair, Malaysia, dan Irak," ujar dia.





Dengan perubahan pencatatan hasil investasi Pertamina di neraca pembayaran, maka pendapatan primer di neraca pembayaran akan naik, sehingga bisa mengurangi defisit neraca transaksi berjalan alias current account deficit (CAD). Tapi, Darmin belum mau membeberkan angka hasil investasi yang selama ini belum tercatat. "Hasil investasi di luar negeri tadi kan ada pendapatannya nah itu belum dicatat di neraca pembayaran," ujar Darmin.





Tidak berdampak





Selain mengubah sistem pencatatan, pemerintah menyiapkan kebijakan lain, yaitu kebijakan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) per Mei 2019 mengenai pemanfaatan minyak mentah hasil eksplorasi di dalam negeri, untuk kebutuhan di dalam negeri. Selama ini hasil eksplorasi diekspor. Dengan adanya kebijakan ini maka sebagian diolah di dalam negeri untuk pasar lokal.





Sebagai catatan, minyak mentah hasil eksplorasi sebagian berasal dari Pertamina, dan sebagian merupakan bagian Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) baik lokal maupun asing.





Nah, jika dipakai di dalam negeri, artinya diolah di kilang Pertamina. Hal ini akan mengurangi impor minyak mentah yang dibutuhkan oleh Pertamina untuk memproduksi bahan bakar mineral (BBM) seperti solar dan avtur.





Meski demikian, kebijakan ini hanya berdampak kecil ke neraca dagang. Pasalnya kendati impor turun, ekspor juga turun. "Jadi side off ya, jadi nol," ujar Darmin.





Bagi Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih, selama ini pendapatan Pertamina kemungkinan tidak diakui sebagai pendapatan primer. "Kemungkinan (selama ini) lebih sebagai netting. Karena yang beli minyak anak usaha Pertamina, jadi selisihnya saja yang dicatat. Misalnya dia beli lebih mahal dari pendapatan, ya dianggap sebagai impor," kata Lana. Meski menyambut baik kebijakan ini, Lana memprediksi ini tidak berdampak banyak ke penurunan defisit.





Sumber : https://insight.kontan.co.id/news/pencatatan-minyak-hasil-produksi-pertamina-di-luar-negeri-akan-diubah





Reporter: Adinda Ade Mustami, Benedicta Prima
Editor: Thomas Hadiwinata





Ingin kost anda bersih maksimal tanpa mengeluarkan tenaga? segera hubungi jasa bersih kost jogja untuk solusi terbaik


Download >>

Harga minyak masih akan terkoreksi lantaran tarik ulur sentimen yang membayangi


JAKARTA. Pergerakan harga minyak pada pekan ini semakin lesu. Pekan lalu harga minyak berada di level tertinggi sebesar US$ 66,30 per barel (23/4). Namun pekan ini harga minyak berbalik turun, melihat sikap Amerika Serikat (AS) yang mulai menggelontorkan sentimen guna melemahkan harga minyak.





Jumat (3/5) pukul 18.40 WIB, harga minyak west texas intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2019 di New York Mercantile Exchange berada di US$ 61,88 per barel, naik 0,10%. Namun harga komoditas energi ini terkoreksi 2,24% dibanding saat tutup pasar akhir pekan lalu di level US$ 63,30 per barel.





Analis Global Kapital Investama Berjangka Alwi Assegaf menilai memasuki kuartal-II harga minyak wajar mulai mengalami koreksi, bahkan ia memprediksi pada periode tersebut harga komoditas energi ini mungkin berada di kisaran US$ 54-US$ 58 per barel. Sebab, harga minyak pada kuartal-I sudah naik 32,4%.





Alasannya, pada kuartal II-2019 sanksi AS terhadap Iran akan dijalankan, tepatnya pada awal bulan ini. Di mana AS melarang seluruh negara importir minyak untuk melakukan perdagangan terhadap Iran. 





Sebetulnya saksi ini sudah berlaku di tahun lalu, tapi kala itu AS masih memberikan toleransi kepada delapan negara importir minyak untuk masih bisa berhubungan dagang dengan Iran.





AS mengimbau kepada Arab Saudi agar menggenjot produksi minyaknya sebagai pengalihan sumber para importir minyak. 





Namun, Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) dan non-OPEC sepertinya sudah mendeteksi politisasi saksi AS terhadap Iran dan Venezuela yang sudah lebih dulu. Sejak awal tahun lalu, organisasi tersebut  melakukan stimulus kebijakan dengan memangkas produksi dengan target 1,2 juta barel per hari hingga saat ini.





Akan tetapi kabarnya bulan lalu Rusia belum bisa memberikan sumbangsih program pemangkasan minyak dengan baik. Namun, Alwi memandang ke depannya Rusia sepertinya akan berjalan dengan efektif. 





“Rusia gagal karena laporan EIA setidaknya April sampai dengan Juni masih bisa membaik, terlebih Rusia jauh dari tekanan sanksi AS,” kata Alwi, Jumat (3/5).





Tak diam begitu saja, Iran mengancam balik AS jika sanksi tetap dibebankan maka Iran akan menutup selat Hormus yang akan menghadang laju ekspor minyak di beberapa negara tetangga Iran yang juga menjadi negara eksportir minyak, termasuk Arab Saudi. “Dampaknya pasokan minyak global jadi terganggu,” imbau Alwi.





Kemarin, Energy Information Administration (EIA) melaporkan bahwa produksi minyak mentah AS mencapai rekor 12,3 juta barel per hari pada pekan lalu, naik sekitar 2 juta barel per hari dari setahun yang lalu. 





Ini merupakan pertumbuhan tertinggi sejak 2017. Kata Alwi inilah alasan utama yang membuat harga minyak pekan ini terkoreksi.





Di sisi lain cadangan minyak sepertinya akan bertambah di benua Afrika. Sekretaris Perminyakan Kenya, Martin Heya kabarnya akan menawarkan 36 blok ekplorasi minyak mentah. Negara Afrika Timur itu sedang mencari perusahaan untuk melakukan survei seismik. Ditargetkan pada tahun 2021 studi kelayakan sudah rambung sehingga produksi minyak di Kenya bisa bertambah. Sebelumnya, Kenya memiliki 63 blok minyak, 27 di antaranya sudah dilisensikan.





Kata Alwi, ke depan sentimen harga minyak masih tarik-ulur, AS akan terus berusaha agar harga minyak turun, sementara OPEC dan non-OPEC tetap menjaga harga minyak. Untuk perdagangan pekan depan Alwi memprediksi harga minyak kemungkinan masih akan melemah dan akan diperdagangkan di rentang US$ 58,86-US$ 64,76 per barel.





Sumber :
https://investasi.kontan.co.id/news/harga-minyak-masih-akan-terkoreksi-lantaran-tarik-ulur-sentimen-yang-membayangi





Reporter: Yusuf Imam Santoso 
Editor: Herlina Kartika





rumah kotor, berantakan, dan kurang nyaman? mungkin anda harus membersihkannya, klik cleaning service jogja untuk mendapatkan pelayanan terbaik
















Download >>

Update App