KlinKlin Indonesia merupakan jasa cleaning service panggilan no.1 di Indonesia. Kami melayani jasa bersih kost Bandung, jasa bersih rumah Bandung dan cleaning service Bandung. Cabang kami tersebar di berbagai wilayah seperti cleaning service jakarta, bandung, jogja, surabaya, malang, semarang, balikpapan, bontang dan lainnya. Hubungi 085877678008
Showing posts with label perbankan. Show all posts
Showing posts with label perbankan. Show all posts

Bank BTN Akan Terbitkan Junior Global Bond US$300 Juta


Untuk memacu bisnis di tahun depan,, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk. (Bank BTN) akan menerbitkan junior global bond senilai US$ 300 juta. Menurut Direktur Utama Bank BTN Maryono, dengan penerbitan global bond tersebut, beserta berbagai tambahan wholesale funding lainnya, diproyeksikan Capital Adequacy Ratio (CAR) Bank BTN berada di level 19,1% pada Desember 2019. "Dengan permodalan tersebut, Bank BTN bersiap memacu kredit pada tahun depan," kata Maryono saat Paparan Kinerja Triwulan II Bank BTN di Jakarta (26/7).





Hingga semester pertama 2019, kinerja penyaluran kredit Bank BTN di atas rata-rata industri perbankan. Per Juni 2019, Bank BTN mencatatkan kenaikan kredit 18,78% secara tahunan (year-on-year/yoydari Rp 211,35 triliun pada Juni 2018 menjadi Rp 251,04 triliun. Sedangkan, kredit industri perbankan hanya naik 9,92% yoy per Juni 2019.





Diakui Maryono, pertumbuhan penyaluran kredit Bank BTN masih ditopang segmen kredit perumahan. Lini bisnis tersebut mencatatkan kenaikan 19,72% yoy menjadi Rp 173,61 triliun.





Segmen kredit perumahan tersebut ditopang melesatnya penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Subsidi menjadi senilai Rp 90,75 triliun pada Juni 2019 atau naik 27,55% yoy, sedangkan KPR Non-subsidi Bank BTN pun tercatat naik sebesar 13,08% yoy menjadi Rp 74,39 triliun per Juni 2019.





Hal ini membuat Bank BTN tetap menjadi pemimpin pasar dengan pangsa KPR sebesar 39,56% per Maret 2019. Di lini KPR Subsidi, perseroan juga mendominasi kue pasar sebesar 92,43% per Maret 2019.





Sedangkan di lini bisnis komersial, Bank BTN juga mencatatkan peningkatan kredit sebesar 17,7% yoy dari Rp 38,03 triliun menjadi Rp 44,77 triliun per Juni 2019. Peningkatan ini disumbang kenaikan kredit investasi yang melesat sebesar 88,99% yoy menjadi Rp 7,28 triliun pada semester I/2019.





Kenaikan kredit ini menyumbang pendapatan bunga Bank BTN naik 19,81% yoy dari Rp10,66 triliun pada semester I/2019 menjadi Rp 12,78 triliun. Dengan perolehan tersebut, pendapatan bunga bersih Bank BTN per semester I/2019 menjadi senilai Rp 4,71 triliun.





Pendapatan bunga bersih tersebut menyumbang perolehan laba bersih senilai Rp1,3 triliun. Sedangkan laba bersih tersebut hingga semester I 2019 telah mencapai 50% dari target pada akhir 2019 senilai Rp2,6 triliun. "Kami optimis target laba bersih Rp 2,6 triliun akan tercapai," tegas Maryono.





Dari sisi Dana Pihak Ketiga (DPK), Bank BTN sukses menghimpun DPK senilai Rp234,89 triliun atau naik 15,89% yoy, padahal kinerja penghimpunan DPK perbankan nasional yang hanya tumbuh di level 7,42% yoy per Juni 2019.





Sumber : https://swa.co.id/swa/capital-market/financial-report/bank-btn-akan-terbitkan-junior-global-bond-us300-juta





rumah kotor, berantakan, dan kurang nyaman? mungkin anda harus membersihkannya, klik cleaning service jogja untuk mendapatkan pelayanan terbaik


Download >>

Fintech merajai uang elektronik berbasis server, bank hanya 0,2%


JAKARTA. Meski baru seumur jagung, financial technology (fintech) mulai bersaing dengan perbankan, terutama dalam segmen transaksi uang elektronik berbasis server. Uang elektronik dibedakan menjadi dua jenis, yakni berbasis cip dan berbasis server.





“Untuk yang berbasis server memang 99,8% pasar dikuasai oleh nonbank sedangkan sisa 0,2% baru dikuasai bank,” kata Direktur Eksekutif Departemen Kebijakan Sistem Pembayaran Bank Indonesia Filianingsih Hendarta, Kamis (4/4).





Sementara untuk uang elektronik berbasis cip, Filianingsih bilang pangsa pasar memang masih dikuasai perbankan sebesar 83,3%. Sementara sisa 16,7% baru dikuasai nonbank.





Lembaga nonbank disebutkan Filianingsih juga memiliki lebih banyak pengguna, dan nominal dalam satu kali transaksinya (ticket size). “Pengguna uang elektronik nonbank mencapai 113,5 juta, sementara dari bank sebanyak 60,3 juta. User nonbank juga punya ticket size yang lebih besar, dengan rata-rata Rp 33.000, sedangkan user bank hanya Rp 13.000,” imbuh dia.





Ticket size lembaga nonbank lebih besar lantaran transaksi lebih banyak dilakukan untuk belanja ritel. Sedangkan uang elektronik dari bank lebih banyak digunakan untuk kebutuhan transportasi.





Filianingsih tak merinci berapa volume maupun transaksi uang elektronik yang dilakukan perbankan maupun nonbank. Sementara dari data bank sentral, sejak Januari-Februari 2019 saja, transaksi uang elektronik secara keseluruhan telah mencapai Rp 11,78 triliun.





Sedangkan sepanjang 2018 lalu, tercatat transaksi uang elektronik mencapai Rp 47,19 triliun, melonjak 281,39% (yoy) dibandingkan 2017 dengan nilai transaksi sebesar Rp 12,37 triliun.





Hingga Maret 2019, dari catatan BI sudah ada 36 penerbit uang elektronik berbasis server. Sebelas penerbit berasal dari perbankan. Sedangkan 25 penerbit lainnya adalah dari lembaga non bank.





PT Bank Central Asia Tbk (BBCA)  terus memacu transaksi uang elektroniknya melalui platform Sakuku. Direktur BCA Santoso Liem bilang, pihaknya terus meningkatkan transaksinya dengan menambahkan fitur yang relevan. Misalnya untuk pembelian data internet, voucer gim, hingga beragam promosi makanan, hingga hiburan.





“Tahun lalu pertumbuhan volume transaksi Sakuku mencapai 175%, sementara pertumbuhan nominalnya mencapai 200% dengan pengguna kurang lebih 700.000,” kata Direktur BCA Santoso Liem saat dihubungi Kontan.co.id, Kamis (4/4)





Meski demikian, Santoso bilang sejatinya perbankan punya model bisnis yang berbeda dengan fintech ihwal uang elektronik berbasis server tadi. Sebab, perbankan sekadar menyediakan jasa keuangan, bukan menjual barang atau jasa.





Ia memberi contoh transaksi melalui Go Pay atau Ovo misalnya punya basis layanan ride hailing dari Go Jek, dan Grab. LinkAja sebagai platform pembayaran pelat murah pun demikian. Meski ada anggota Himpunan Bank Negara (Himbara), Telkomsel yang jadi ujung tombaknya dengan dengan menyediakan data internet.





“Ada sedikit perbedaan model bisnis, Sakuku tidak menyediakan barang karena basisnya kami bekerja sama dengan nasabah. Sementara perusahaan teknologi seperti Go Pay, OVO setidaknya menyediakan jasa, termasuk dari Himbara yang vehicle-nya cenderung ada di Telkom,” papar Santoso.





Selain bank skala nasional, bank daerah pun tak mau ketinggalan. PT Bank Pembangunan Daerah Sumatra Selatan dan Babel juga tengah menyiapkan platform uang elektronik berbasis server yang dapat digunakan kelak melalui platform QR code.





“Kami sedang merencanakan untuk e-money server based, sembari menunggu standardisasi QR code dari Bank Indonesia,” kata Direktur Pemasaran Bank Sumsel Babel Antonius Prawiro Argo kepada Kontan.co.id.





Sedangkan hingga Maret, uang elektronik berbasis cip milik BPD Sumatra Selatan dan Babel bertajuk BSB Cash telah tersebar sebanyak 65.552 kartu. Dengan nilai transaksi per bulannya rata-rata senilai Rp 200 juta. Antonius bilang tahun ini pertumbuhan uang elektronik milik BPD Sumatra Selatan dan Babel ditargetkan mencapai 25%.





Sebelumnya, Danu Wicaksana, CEO PT Fintek Karya Nusantara (Finraya) sebagai pengelola LinkAja menyatakan saat ini semua uang elektronik berbasis server milik perusahaan pelat merah telah bermigrasi ke LinkAja.





“Saat ini kami sudah melakukan migrasi, sehingga e-money server based tersebut sudah tidak aktif lagi,” kata CEO PT Fintek Karya Nusantara (Finraya) Danu Wicaksana kepada Kontan.co.id.





Melalui migrasi ini, Unikqu milik PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), T-Bank dari PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan e-cash punya PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan T-Cash milik PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) telah rampung bermigrasi ke LinkAja oleh PT Fintek Karya Nusantara (Finraya) sebagai pengelola.





Selanjutnya, Danu bilang juga akan mengintegasikan platform QR milik anggota Himbara tadi. Yaitu Yap milik BNI, My QR dari BRI, dan Mandiri Pay punya Bank Mandiri.





Sumber :
https://keuangan.kontan.co.id/news/fintech-merajai-uang-elektronik-berbasis-server-bank-hanya-02
Reporter: Anggar Septiadi 
Editor: Wahyu Rahmawati





cleaning service panggilan jogja terbaik dengan layanan memuaskan dan harga terjangkau, hubungi kami segera







Download >>

Ramai aksi korporasi, 2019 jadi tahun konsolidasi perbankan


JAKARTA. Tahun ini ada sejumlah bank yang berniat melakukan aksi korporasi guna memperluas cakupan bisnis. Ambil contoh dua bank besar Tanah Air yaitu PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang berniat mencaplok bank untuk melengkapi lini bisnis layanan perbankan.





Merujuk pemberitaan Kontan.co.id (18/3) lalu, Bank Mandiri mengakui kalau pihaknya tengah mengkaji rencana akuisisi bank menengah. Sebabnya, menurut Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo pihaknya memiliki ekses likuiditas mencapai Rp 30 triliun. Ia juga menyebut tengah membidik dua bank menengah yang dinilai potensial.





"Bank Mandiri memang punya ekses likuiditas Rp 30 triliun. Kalau ada bank yang size-nya besar dijual di Indonesia, tentu kita akan lihat," katanya. Belakangan pula, santer dikabarkan kalau bank berlogo pita emas ini sedang menyasar PT Bank Permata Tbk (BNLI), namun sampai saat ini kedua belah pihak belum mengonfirmasi hal tersebut.





Di lain pihak, BCA dirumorkan sedang melakukan proses akuisisi terhadap bank kecil di Indonesia alias kategori bank umum kelompok usaha (BUKU) I dengan modal inti di bawah Rp 1 triliun. Direktur Utama BCA Jahja Setiaatmadja pada pertengahan Februari lalu juga mengisyaratkan kalau bank tersebut bukan merupakan perusahaan terbuka.





Nama bank kecil yang ramai dikabarkan akan dicaplok BCA yaitu PT Bank Royal Indonesia. Pun, Bank Royal memang selaras dengan acuan yang ditetapkan oleh BCA.





Selain Mandiri dan BCA, ada pula beberapa rencana aksi korporasi perbankan yang rencananya diselenggarakan tahun ini. Misalnya saja terkait rencana divestasi saham Austalia and New Zealand Banking (ANZ) di PT Bank Pan Indonesia Tbk (PNBN).





Rencana ini sudah digaungkan oleh pihak ANZ sejak tahun 2013 silam, sebagai langkah untuk memenuhi ketentuan kepemilikan tunggal bank (single presence policy/SPP). Lantaran ANZ juga memiliki 99% saham di PT Bank ANZ Indonesia, sementara saham di Bank Panin sebesar 38,82% alias melebihi peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 25%.





Menanggapi maraknya aksi konsolidasi perbankan di tahun ini, Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Heru Kristiyana bilang kalau pihaknya tetap akan mendukung rencana tersebut. Mengenai ANZ dan Bank Panin, Hery mengatakan pihaknya memberikan dua opsi kepada ANZ yaitu menjadi pemegang saham pengendali atau menjual saham di Bank Panin hingga ke batas bawah.





Sementara untuk rencana akuisisi perbankan oleh Bank Mandiri dan BCA, OJK selaku pengawas masih memantau kajian masing-masing bank. Menurutnya, saat ini kedua rencana tersebut masih bergulir lantaran pihak bank harus terlebih dahulu melakukan proses tahapan.





"(Mandiri) belum bicara sama kita. BCA masih on progress. Bisa tanyakan langsung, mereka masih harus RUPS (rapat umum pemegang saham) dan due diligence," tegasnya di Jakarta, Selasa (2/2) lalu.





Heru juga menyebut salah satu rencana konsolidasi bank yang akan rampung dalam waktu dekat yaitu merger antara PT Bank Dinar Indonesia Tbk (DNAR) dan PT Bank Oke Indonesia. Kedua bank ini memang direncanakan akan merampungkan merger di Semester I 2019 pasca mendapatkan pernyataan efektif dari OJK pada tanggal 8 Maret 2019.





Ada pula dua investor lain menyatakan niat untuk masuk ke saham perbankan Tanah Air. Pertama yaitu masuknya LINE Corporation melalui anak usahanya, LINE Financial Asia lewat akuisisi 20% saham di PT Bank KEB Hana Indonesia.





Akhir tahun lalu, LINE Financial Asia akan secara resmi melakukan finalisasi perjanjian dengan Bank KEB Hana setelah menerima persetujuan dari Otoritas Jasa Keuangan. Mereka segera mempersiapkan peluncuran layanan perbankan digital yang diperkirakan tersedia di tahun 2019.





Kedua, masuknya perusahaan teknologi finansial (tekfin) Akulaku ke saham PT Bank Yudha Bhakti Tbk dengan kepemilikan 8,9%. Menurut pemberitaan Kontan.co.id (15/3) Akulaku juga berkomitmen untuk berinvestasi di BBYB hingga Rp 500 miliar ke depan yang dibagi menjadi beberapa tahap, salah satunya dengan menjadi pembeli siaga dalam rights issue BBYB di bulan Mei 2019 mendatang.





Menurut pengakuan Heru, OJK perbankan belum menerima keterangan dari dua perusahaan tersebut. Mengenai aturan boleh tidaknya sebuah perusahaan tekfin atau fintech memiliki bank, Heru mengaku masih akan melakukan pengkajian.





"Akulaku belum bicara ke kita (OJK). Belum datang. Nanti kita lihat (aturannya) kalau sudah ada kepastian, kami akan kasih tahu," jelasnya.





Sumber :
https://keuangan.kontan.co.id/news/ramai-aksi-korporasi-2019-jadi-tahun-konsolidasi-perbankan
Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang 
Editor: Tendi





liburan di kost akan terasa lebih nyaman jika ruangan kamu bersih dan rapi, tapi mager? jangan khawatir klik jasa bersih kost jogja untuk solusi terbaik


Download >>

Upaya Bukopin Dongkrak Laba Bersih Rp 400 Miliar






Setelah berhasil membukukan laba bersih sebesar Rp190 miliar pada tahun 2018, atau meningkat 40% dibandingkan dengan pencapaian laba pada tahun 2017, kini manajemen Bank Bukopin manargetkan laba bersih sekitar Rp400 miliar.





Menurut M. Rachmat Kaimuddin Direktur Keuangan dan Perencanaan Bank Bukopin, tahun lalu Bank Bukopin fokus untuk memperbaiki rasio kecukupan modal, kualitas kredit dan mengelola biaya overhead. 
“Kami berkonsentrasi menyiapkan fondasi yang kokoh untuk memacu pertumbuhan berkelanjutan di tahun-tahun berikutnya,” ujar Rachmat.





Diakui Rachmat pencapaian per Desember 2018 menunjukkan kinerja Bank Bukopin semakin membaik dibandingkan periode sebelumnya. Peningkatan kinerja tersebut didorong oleh perbaikan kualitas kredit, serta penurunan biaya dana dan biaya overhead.





Ia menambahkan tahun 2018 Bank Bukopin berhasil merealisasikan agenda penting yaitu pelaksanaan Rights Issue. Melalui aksi korporasi tersebut permodalan Bank Bukopin menjadi semakin kuat. Selain itu, Bank Bukopin telah melakukan revitalisasi segmentasi bisnis, penyempurnaan struktur organisasi dan bisnis proses untuk menjaga daya saing. “Kami yakin dengan dukungan pemegang saham yang solid Bank Bukopin akan dapat melaju lebih pesat lagi untuk mewujudkan tujuan dan visi bank," katanya.





Untuk memacu pertumbuhan kinerja pada tahun 2019, menurut Rachmat Bank Bukopin akan melakukan perbaikan kualitas, peningkatan produktivitas, dan mengoptimalkan proses digitalisasi.





Selain itu, akan merilis sejumlah produk dan layanan baru. Salah satu produk andalan yang telah diluncurkan Bank Bukopin pada 2018 dan akan dipacu penetrasinya pada 2019 adalah Flexy Bill, yaitu pembiayaan pembayaran tagihan listrik untuk pelanggan korporasi. Bank Bukopin juga akan terus memperkuat penetrasi di segmen ritel.





Rivan A Purwantono, Direktur Konsumer Bank Bukopin menambahkan untuk memperkuat bisnis di segmen ritel, Bank Bukopin akan menjalankan beberapa strategi seperti peningkatan penetrasi pada bisnis perbankan digital, pembiayaan perumahan, dan memacu pendapatan dari fee based income. Fokus bisnis lain yang dibidik Bank Bukopin adalah pada kredit personal, terutama di segmen pensiunan dan kredit kendaraan bermotor melalui sinergi dengan PT Bukopin Finance.





Karena kredit pensiun yang berasal dari pegawai negeri sipil (PNS), Tentara Nasional Indonesia (TNI) serta pegawai BUMN bakal menjadi dorongan untuk menggenjot kredit Bukopin. "Kredit konsumer menjadi fokus bisnis kami di 2019, kami sudah lakukan beberapa perbaikan," katanya.





Diakui Rivan, tahun lalu Bank Bukopin telah menyiapkan sejumlah produk dan layanan andalan berbasis perbankan digital, mulai dari tabungan Wokee hingga rebranding layanan PPOB menjadi Bukopinet. "Tahun ini, penetrasi produk dan layanan tersebut akan terus diperkuat,” kata Rivan.





Berdasarkan Laporan Keuangan Bank Bukopin per Desember 2018 laba sebelum pajak tumbuh 78% menjadi Rp216 miliar dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sedangkan penyaluran kredit Bank Bukopin mencapai Rp 66,44 triliun, mobilisasi dana pihak ketiga sebesar Rp 76,15 triliun dan aset Rp 95,64 triliun.





Rachmat menjelaskan sepanjang 2018, sebagian besar kredit Bank Bukopin disalurkan ke sektor ritel, yaitu UMKM Rp 29,28 triliun dan konsumer Rp 15,26 triliun, sementara kredit ke sektor komersial sebesar Rp 21,90 triliun.





Tahun ini Bukopin akan mulai melakukan ekspansi dari sisi kredit guna mempercantik kinerja di 2019. Segmen yang masih jadi andalan Bukopin yaitu konsumer yang terdiri dari ritel dan UMKM.





Dari sisi rasio kecukupan modal, posisi CAR Bank Bulopin mencapai 13,41%, meningkat 2,89% . Sedangkan ROA dan ROE Bank Bukopin tercatat sebesar 0,22% dan 2,95%.





Untuk Dana Pihak Ketiga Bank Bukopin ditempatkan dalam bentuk Giro sebesar Rp10,04 triliun, tabungan Rp19,92 triliun dan sisanya sebesar Rp46,19 triliun merupakan Deposito. Sedangkan rasio LDR Perseroan tercatat 86,18%.





Dari sisi kualitas kredit, rasio NPL net Bank Bukopin berada di kisaran 4,75%. Angka tersebut membaik dibandingkan dengan posisi NPL net pada tahun sebelumnya yaitu sebesar 6,37%. Sementara itu, pendapatan operasional lainnya (fee based income) yang diperoleh Bank Bukopin sebesar Rp784 miliar.





Sumber :
https://swa.co.id/swa/capital-market/financial-report/upaya-bukopin-dongkrak-laba-bersih-rp-400-miliar





apakah anda ingin membersihkan rumah atau kost anda namun tidak memiliki waktu luang? serahkan kepada kami, klik jasa bersih rumah dan kost jogja untuk solusi terbaik


Download >>

Siap-siap naik kelas, berikut strategi yang dilakukan bank BUKU II


JAKARTA. Perbankan terus berupaya meningkatkan permodalan agar lebih leluasa menjalankan bisnisnya. Karenanya, sejumlah bank yang masuk bank umum kelompok usaha (BUKU) II dengan modal inti Rp 1 triliun-Rp 5 triliun bersiap untuk menambah modal demi naik kelas ke BUKU III.





Salah satunya, PT Bank Woori Saudara Tbk (BWS) yang akan menambah modal inti di tahun ini. Per akhir 2018 Bank Woori memiliki modal inti (tier 1) menyentuh Rp 4,3 triliun. Jumlah modal inti ini meningkat dari periode tahun sebelumnya yang sebesar Rp 3,97 triliun alias tumbuh 8,3% secara year on year (yoy).





"Kami masih bisa naik BUKU III dari organik saja, tidak ada rencana corporate action," jelas I Made Mudiastra, Direktur PT Bank Woori Saudara Tbk Jumat (29/3).  





Menurut Made, jika tahun ini Bank Woori tidak membagikan dividen kepada pemegang saham, sehingga bisa saja modal inti bank akan menyentuh Rp 5 triliun, atau masuk kategori BUKU III.





Sebab, menurutnya memasuki tahun 2019 modal inti Bank Woori sudah mencapai Rp 4,6 triliun. "Artinya kalau dipotong dividen mungkin tinggal Rp 4,5 triliun. Untuk menyentuh Rp 5 triliun kurang Rp 500 miliar lagi," imbuh Made.





Dengan asumsi pertumbuhan laba tahun ini sebesar 10% secara tahunan, Made bilang paling lambat tahun 2020 Bank Woori sudah bisa masuk kategori BUKU III.





Catatan saja, pada tahun 2018, Bank Woori membukukan laba bersih Rp 537,91 miliar, naik 22,62% ketimbang tahun 2017 yang sebesar Rp 438,72 miliar.





Dengan asumsi tersebut, artinya tahun ini prediksi laba bersih Bank Woori bisa mencapai Rp 591,76 miliar. 





Nantinya, bila sudah menjadi BUKU III, BWS bakal lebih gencar mendongkrak bisnis di segmen korporasi dengan mitra perusahaan besar dari Korea Selatan. Namun, pihaknya juga akan masuk ke segmen usaha kecil dan menengah (UKM) sekaligus perusahaan korporasi domestik sambil mengembangkan bisnis konsumer seperti kredit pemilikan rumah (KPR).





Bukan hanya BWS, PT Bank Mandiri Taspen (Mantap) juga punya rencana naik ke BUKU III dalam jangka menengah. Namun, Direktur Utama Bank Mantap Josephus K Triprakoso bilang kalau rencana tersebut baru bisa terwujud di tahun 2021 mendatang.





Salah satu upayanya yaitu dengan mempertahankan raihan kinerja dan pendapatan yang positif untuk mengerek laba dan mendorong modal. Di sisi lain, komitmen dari pemegang saham yaitu PT Bank Mandiri Tbk dan PT Taspen juga cukup tinggi dengan suntikan modal hampir setiap tahun. "Kalau sesuai corporate plan di 2021, caranya organik plus penambahan modal," ujarnya kepada Kontan.co.id, Minggu (31/3).





Tak banyak yang berubah, jika menjadi BUKU III Bank Mantap akan tetap fokus memberikan kredit ke aparatur sipil negara (ASN) yang aktif maupun pensiunan. Sekadar informasi, akhir tahun lalu setelah mendapat injeksi modal Rp 500 miliar dari Bank Mandiri dan Taspen total tier 1 Bank Mantap sudah mencapai Rp 2,6 triliun. Injeksi tersebut disesuaikan dengan porsi saham masing-masing pemegang saham yakni Mandiri 51,05% dan Taspen 48,39%.





Berbeda dengan BWS dan Bank Mantap, PT Bank BNI Syariah dan PT Bank BRI Agroniaga Tbk direncanakan untuk naik kelas di tahun 2019 ini. Merujuk pemberitaan Kontan.co.id pada 14 Maret lalu posisi modal inti BNI Syariah sudah mencapai Rp 4,2 triliun saat ini.





Direktur BNI Syariah Dhias Widhiyati mengungkap ada beberapa opsi untuk menambah modal. Sejumlah opsi ini antara lain melalui mitra strategis (strategic partner), melantai di bursa alias initial public offering (IPO) atau suntikan modal dari pemegang saham. "Paling mendekati adalah capital injection. Tapi kami berjuang untuk sampai akhir tahun ini jadi BUKU III," terangnya.





Bila hal ini terwujud, maka BNI Syariah bakal menjadi bank umum syariah (BUS) BUKU III kedua di Tanah Air setelah selama beberapa tahun terakhir hanya diisi oleh PT Bank Syariah Mandiri (BSM).





Sementara itu, BRI Agro berencana naik ke BUKU III pada pertengahan tahun ini. Anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) ini setidaknya membutuhkan tambahan modal sekitar Rp 600 miliar hingga Rp 700 miliar untuk naik kelas. Adapun, total modal inti BRI Agro akhir tahun lalu sudah mencapai Rp 4,28 triliun naik dari Rp 3,07 triliun di tahun 2017.





Sebagai tambahan informasi, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat saat ini jumlah bank di kelas BUKU III sudah sebanyak 27 bank konvensional dan 1 BUS per Januari 2019.





Ada sejumlah keunggulan yang bisa dinikmati oleh BUKU III dibanding BUKU I dan II. Salah satunya bank kelompok ini lebih leluasa melakukan kegiatan penyaluran dan penghimpunan dana dalam bentuk rupiah dan valuta asing (valas) pada lembaga keuangan di dalam dan luar negeri walau terbatas di Asia saja.





Selain itu, BUKU III juga diperkenankan untuk membuka kantor cabang jaringan di Tanah Air secara bebas dan di luar negeri secara terbatas pada wilayah Asia saja.





Sumber :
https://keuangan.kontan.co.id/news/siap-siap-naik-kelas-berikut-strategi-yang-dilakukan-bank-buku-ii
Reporter: Laurensius Marshall Sautlan Sitanggang 
Editor: Herlina Kartika





apakah anda ingin membersihkan rumah atau kost anda namun tidak memiliki waktu luang? serahkan kepada kami, klik jasa bersih rumah dan kost jogja untuk solusi terbaik


Download >>

Update App