KlinKlin Indonesia merupakan jasa cleaning service panggilan no.1 di Indonesia. Kami melayani jasa bersih kost Bandung, jasa bersih rumah Bandung dan cleaning service Bandung. Cabang kami tersebar di berbagai wilayah seperti cleaning service jakarta, bandung, jogja, surabaya, malang, semarang, balikpapan, bontang dan lainnya. Hubungi 085877678008

Steve Wirawan, Ciptakan Platform Berbagi Cerita


Mulanya sebuah tukar pikiran. Tahun 2015, Steve Wirawan berdiskusi dengan sahabat baiknya, Brillian Yotenega (Ega). Topiknya: industri literasi di Tanah Air. Kebetulan mereka berdua penikmat buku.





Mereka pun berbincang seputar tren dunia literasi. Namun, tak seperti Steve yang bekerja di industri properti, Ega tak hanya menjadi penikmat buku. Saat itu dia sudah memiliki perusahaan self-publishing: Nulisbuku. Ini adalah platform pencetakan buku on demand. Saat bertemu Steve, Nulisbuku baru berusia lima tahun. Sayang, pertumbuhannya tidak secepat yang diharapkan.





Dari berbincang itu, mereka merasa perlu ada satu terobosan agar dunia literasi meningkat sekaligus bisa menjadi bisnis bersama. “Kami melihat perlunya suatu platform yang memungkinkan penulis dan pembaca lebih cepat lagi dalam mengonsumsi bahan bacaan,” kata Steve. Mengapa begitu?





Mereka melihat minat baca masyarakat Indonesia terus meningkat. Hanya, akses untuk mendapatkan bacaan tampak masih kurang. Dengan adanya teknologi digital, termasuk yang bisa diakses lewat ponsel pintar, kendala ini semestinya bisa diatasi. Bahkan bisa lebih jauh dari itu: masyarakat dapat mengekspresikan diri lewat tulisan yang dibuatnya, untuk dibaca sebanyak mungkin orang. Begitu pikiran mereka.





Maka, lewat sederet diskusi lanjutan yang juga melibatkan Aulia Halimatussadiah, CEO Nulisbuku, akhirnya mereka bertiga melahirkan Storial.Ini adalah platform yang memungkinkan seorang penulis untuk mengunggah karya, entah itu puisi, cerpen, novel, atau naskah nonfiksi, dan berinteraksi dengan pembacanya. Para pendirinya menyebut platform yang mereka buat itu sebagai “social story telling platform”.





Lewat Storial, seseorang yang ingin menerbitkan karyanya memang bisa mengirim tulisan untuk dibaca serta dikomentari. Caranya mudah: mendaftar, dan setelah itu mengikuti petunjuk yang ada. User juga bisa bergabung dengan komunitas penulis sekaligus melihat beragam komentar dari komunitas pembaca tentang tulisannya.





Sejak muncul, perlahan tetapi pasti, Storial menjadi tempat nongkrong bagi peminat literasi. Hal tersebut tak terlepas dari strategi Steve dkk. dalam upaya membuat platform ini disenangi penggunanya. Pertama, ketiga sahabat ini menggunakan teknologi per bab, bukan langsung satu buku. Dengan strategi per bab, pembaca dibuat penasaran untuk membaca bab selanjutnya. Pembaca pun bisa memberikan komentar. Sementara dari sisi penulis, strategi ini mendorongnya kian giat melanjutkan karyanya.





Kedua, Steve dkk. membuat fitur monetisasi (Storial Premium Chapter) dan dompet digital (Storial Wallet). Dalam Storial Wallet tersebut, pembaca dapat mengelola semacam uang digital (Storial Coin) yang bisa digunakan untuk membaca tulisan berbayar. Sementara penulis memiliki fitur Storial Royalty untuk karya yang dihasilkannya.





Penggunaan Storial Wallet terbilang menarik karena Steve dkk. tidak menggunakan digital payment. “Kami ingin dengan adanya Storial Coin ini, pembaca terbiasa dengan currency yang kami punya. Jadi, tidak mutlak dalam mata uang rupiah, karena kami juga membagi komisi atau royalti kepada penulis. Kami ingin ada suatu mata uang yang dipahami komunitas kami,” kata Steve.





Yang ketiga, dia dan teman-temannya membuat jembatan antara Storial dan Nulisbuku. “Kami merekomendasikan kepada penulis bahwa setiap buku yang sudah selesai, bisa mereka cetak di Nulisbuku. Sudah lebih dari 1.000 cerita di Storial yang diterbitkan lewat Nulisbuku,” Steve menjelaskan. Di luar itu, mereka juga akan menjalin kerjasama dengan penerbit konvensional. “Kami akan menerbitkan buku dengan Gagas Media.”





Adapun yang keempat, para pengelola Storial terus memperkuat komunitasnya. Dibuat Storial Ambassador di setiap daerah yang dikembangkan. Mereka adalah penulis aktif di Storial. “Komunitas kami perkuat agar brand kami lebih terasa citarasa lokalnya,” kata Steve. Di luar itu, Steve dkk. juga menggandeng penulis profesional untuk ikut menulis di Storial. Kini total penulis di Storial mencapai 10 ribu orang, dan 10 penulis profesional. “Tahun ini target (penulis profesional) bertambah dua kali lipat.”





Sebagai social story telling platform, faktor konten menjadi perhatian para pengelola Storial yang kini berjumlah 15 karyawan. Agar tulisan berkualitas, mereka sering mengadakan kelas workshop penulisan. Di media sosial, secara aktif mereka juga memberikan tip bagaimana menulis yang baik.





Lalu, agar tampilan menarik bagi pembaca yang sudah mencapai 60 ribu orang, pengelola Storial membuat sejumlah kategori. Ada yang berdasarkan popularitas, ada yang berdasarkan pilihan tim editorial. Yang jelas, setiap minggu dipilih delapan buku pilihan, di samping cerita terbaru.





Lantas, bagaimana dengan revenue stream? Datang dari mana?





“Bagi hasil dengan penulis dan advertisement. Kami juga sedang menjajaki kerjasama dengan para produser film dengan pelaku industri film untuk mengadaptasi cerita yang ada di Storial untuk menjadi audio-visual. Ini sedangprogress,” Steve menjelaskan. Rencananya, dia menambahkan, tim Storial akan melakukan kurasi, melihat potensi cerita yang punya engagement bagus dari pembaca untuk kemudian ditawarkan kepada produser film. Sejauh ini, konten yang paling diminati pembaca Indonesia adalah romansa, fantasi, horor, dan komedi.





Nurisya Febrianti, penulis sekaligus pembaca di Storial, merasakan nikmatnya platform ini. “Kesan setelah menggunakan Storial, untuk menulis benar-benar sesuai dengan yang saya butuhkan. Ada banyak pembaca di Storial, jadi kesempatan untuk karya saya dibaca banyak orang lebih besar. Sementara dari sisi membaca, saya merasa nyaman karena tampilan Storial yang ramah di mata. Saya tidak lelah meskipun baca berjam-jam di ponsel, dan (Sorial) menyediakan fitur ulasan untuk setiap buku,” katanya panjang lebar. Ada dua karya yang diunggahnya di Storial, As Always I Love dan Untuk Setiap Kata yang Tak Bisa Terucap.





Storial, Steve mengungkapkan, masih terus memiliki rencana besar. Dari sisi produk, fitur-fitur baru akan dikembangkan sebagai faktor pembeda dengan aplikasi sejenis. Selain Storial, para penulis di Indonesia bisa menggunakan platform menulis lain untuk memublikasikan karya mereka, seperti Wattpad, Bookslife, hingga Penakota. “Kami akan melakukan banyak improvement di produk, teknologi. Kemudian, mengakuisisi penulis yang kami rasa sudah punya kualitas tulisan bagus. Kami juga ingin bisa bekerjasama dengan produser untuk membuat satu film atau series dengan mereka,” katanya menegaskan. 





Sumber :
https://swa.co.id/youngster-inc/youngsterinc-startup/steve-wirawan-ciptakan-platform-berbagi-cerita





Reportase: Nisrina Salma





Riset: Armiadi Murdiansyah





apakah anda ingin membersihkan rumah atau kost anda namun tidak memiliki waktu luang? serahkan kepada kami, klik jasa bersih rumah dan kost jogja untuk solusi terbaik


Download >>

Garda Pangan, Sang Penyelamat Makanan Berlebih


Banyaknya makanan yang tersisa dari sebuah acara pesta atau hajatan sering kita temukan. Mungkin Anda sendiri pernah mengalami hal seperti ini ketika menggelar acara hajatan. Biasanya ini terjadi karena salah perkiraan mengenai jumlah tamu yang datang. Dan, solusi yang biasa diambil ialah membagikan makanan yang masih layak santap itu kepada kerabat terdekat.





Namun, bila Anda kebetulan pengelola bidang F&B (food and beverage) di sebuah hotel atau pengusaha katering pesta, Anda mungkin akan pusing juga menghadapi masalah yang berulang kali terjadi ini. Itulah yang dialami Dedhy Trunoyudho (kini 27 tahun), yang punya pengalaman sebagai pengusaha katering pernikahan, yang setiap pekan menemukan kejadian seperti ini. Ada etika bahwa staf katering atau F&B tidak boleh membawa pulang makanan tersisa itu. Karena itu, praktik yang banyak dilakukan: makanan itu dibuang saja, dengan alasan lebih praktis dan cepat.





Namun, bagi Indah Audivtia, istri Dedhy, solusi seperti itu terasa menyesakkan dada. Kegelisahan itulah yang membuat pasangan suami-istri ini mencari solusi yang lebih baik, yakni mendonasikan makanan berlebih itu. Pasutri ini kemudian mengajak rekan mereka, Eva Bachtiar (kini 33 tahun), yang juga punya kepedulian yang sama terhadap food waste, untuk menginisiasi gerakan food bank, dengan mendirikan lembaga social enterprise bernama Garda Pangan, yang berkantor di Gubeng, Surabaya. Mereka bertiga menggodok konsepnya sejak September 2016, tetapi baru menjalankannya secara operasional mulai Juni 2017.





Setelah mendalami, mereka menemukan fakta bahwa masalah makanan tersisa dan food waste ini bukan soal sepele. Menurut Eva yang dipercaya sebagai CEO Garda Pangan, Indonesia merupakan negara pembuang sampah makanan terbesar kedua di dunia. Angka rata-ratanya setiap orang bisa membuang 300 kg makanan tiap tahun! Ironisnya, masih ada sekitar 19,4 juta orang Indonesia yang masih kelaparan dan berjuang untuk dapat makan setiap harinya.





Eva menjelaskan lebih lanjut, food waste itu memberikan tiga dampak. Pertama, dampak ekonomi. Karena, ketika kita membuang makanan, sebenarnya yang terbuang bukan hanya makanan tersebut, tetapi juga sumber daya untuk memproduksinya seperti bahan baku makanan, listrik, bahan bakar, dan tenaga manusia.





Kedua, dampak lingkungan. Sebab, sampah makanan yang tertumpuk di landfillmengeluarkan gas metana yang 23 kali lebih berbahaya dibandingkan karbondioksida dan merupakan salah satu gas penyumbang efek rumah kaca.





Ketiga, dampak sosial, karena sebuah ironi bahwa makanan yang terbuang berjumlah besar, sementara masih banyak orang kelaparan.





Boleh dibilang, kehadiran Garda Pangan ini menjawab dua masalah sekaligus: masalah food waste dari para pebisnis makanan dan masalah kekurangan makanan di kalangan masyarakat prasejahtera. “Jadi, Garda Pangan ini terbentuk untuk menghubungkan potensi makanan berlebih ini dengan masyarakat prasejahtera yang membutuhkan makanan tersebut,” kata Eva.





Memulai kegiatannya, kata Eva, merupakan tantangan tersendiri. Terutama dalam hal mencari early adopter-nya. “Karena konsep food bank sendiri belum terlalu familier di masyarakat Indonesia,” ujarnya. Para early adopter itu didapatkan Garda Pangan lewat koneksi di antara relawan. “Mitra yang tergabung biasanya adalah yang punya pikiran terbuka dan berjiwa sosial.”





Sejak mulai beroperasi pada Juni 2017, Garda Pangan telah menggaet mitra yang terdiri dari satu restoran, dua tenant makanan, dua wedding organizer, satu distributor buah, tiga bakery, dan satu pasar organik. Sementara itu, untuk menjalankan kegiatannya, Garda Pangan saat ini diperkuat oleh 30 anggota tim inti dan lebih dari 300 relawan harian.





Eva menyebut kegiatan penanganan makanan berlebih ini sebagai food rescue, yang merupakan sebuah rangkaian aktivitas. Rangkaiannya: briefing relawan – penjemputan makanan ke lokasi mitra – pengambilan makanan – cek kualitas makanan – distribusi makanan ke penerima.





Untuk pengemasan, Eva menyebutkan, pada dasarnya pihaknya berusaha meminimalkan penggunaan kemasan plastik yang tidak diperlukan. “Pada saatfood rescue, makanan kami pindahkan dari kontainer mitra ke kontainer Garda Pangan,” ungkapnya. Namun, untuk beberapa jenis makanan yang sudah dibungkus dari mitra, tetap akan diterima.





Adapun pada saat distribusi, masyarakat penerima diminta untuk membawa piring masing-masing. “Prinsip kami adalah mendistribusikan makanan dengan cara bermartabat,” ujarnya. Karena itu, jika misalnya pada saat food rescueporsi makanannya tidak lengkap, misalnya hanya ada nasi dan sayur, pihak Garda Pangan akan melengkapinya dengan lauknya.





Menurut catatan Garda Pangan, hingga saat ini lembaga ini telah mengumpulkan 52.685 porsi makanan, atau setara dengan 7,9 ton potensi sampah makanan terbuang, dan menyalurkannya kepada 43.590 penerima manfaat. Angka itu setara dengan rata-rata sekitar 400 kg makanan dan sekitar 2.000 penerima manfaat setiap bulannya.





Sejauh ini, penerima manfaat (beneficiaries) dari kegiatan Garda Pangan adalah masyarakat prasejahtera yang telah disurvei dengan cermat agar bantuan yang diberikan tepat sasaran. Kelompok penerima ini terdiri dari kaum dhuafa, yatim piatu, janda, lansia, difabel, pengungsi, dan anak jalanan. Eva menyebutkan, para penerima manfaat ini telah didata secara komprehensif, misalnya jumlah warga, profesi, fasilitas penyimpanan makanan yang tersedia, jam distribusi, serta preferensi makanan. Saat ini kalangan penerima yang sudah terdata adalah masyarakat prasejahtera di 101 kantong kemiskinan di Surabaya.





Eva mengaku kegiatan Garda Pangan selama ini didukung oleh bantuan dari berbagai pihak. “Kami sebenarnya tidak pernah menyebarkan proposal, tapi banyak pihak yang menawarkan dukungan tersebut,” katanya.





Selain dukungan berbagai pihak tadi, Garda Pangan juga berupaya mencari pendanaan. Antara lain, lewat jalur public crowdfunding di situs Kitabisa.com (subsitus: Kitabisa.com/gardapangan).





Lembaga ini juga rajin mengikuti kompetisi, yang hadiahnya jika menang dapat digunakan sebagai dana operasional.





Garda Pangan juga baru saja membuka opsi pendanaan lain berupa penjualan paket donasi zero-waste merchandise. Paket donasi ini berisi produk-produk yang bisa mendukung praktik zero-waste, sekaligus membantu pengiriman makin banyak makanan untuk masyarakat prasejahtera.





Menurut Eva, seiring perjalanan waktu dan adanya liputan media, banyak pihak yang tertarik menjadi mitra Garda Pangan. “Kebanyakan memang baru tahu bahwa di Indonesia ada gerakan semacam ini, dan ternyata banyak juga pebisnis makanan yang sering kebingungan dengan makanan berlebih yang mereka buat,” katanya.





Layanan food rescue untuk para mitra ini hingga sekarang masih dilakukan secara gratis. “Kami masih mengedukasi masyarakat dan para pebisnis makanan, dan juga mengadvokasi pemerintah agar menciptakan iklim yang kondusif,” katanya. Saat ini, fokus jangka pendek Garda Pangan memang memperluas cakupan mitra dengan mengajak lebih banyak kalangan pebisnis makanan, juga penerima manfaat.





Ke depan, dalam jangka panjang, Eva mengungkapkan, Garda Pangan juga ingin menjadi social enterprise yang dapat sustain dan memiliki sumber pendanaan secara mandiri, agar bisa terus memberikan dampak positif bagi masyarakat. Karena itu, para mitra industri hospitality dan pebisnis makanan yang dikelola makanan berlebihnya ini nantinya akan dikenai biaya, dalam format model bisnis sustainable and responsible food waste management. “Kami masih terus mematangkan model bisnis kami untuk menjadi social enterpriseyang sustainable,” katanya. (*)





Sumber :
https://swa.co.id/youngster-inc/entrepreneur-youngsterinc/garda-pangan-sang-penyelamat-makanan-berlebih





Reportase:
Arie Liliyah





Riset: Armiadi





rumah kotor, berantakan, dan kurang nyaman? mungkin anda harus membersihkannya, klik jasa bersih rumah jogja untuk mendapatkan pelayanan terbaik


Download >>

Kimia Farma Buka Konsep Terbaru Health & Beauty


Tren untuk tampil cantik dan menarik semakin menjadi atensi masyarakat. Penggunaan kosmetik dan perawatan diri tidak hanya menjadi bagian dari gaya hidup (lifestyle) kaum hawa tetapi juga kaum adam. Hal ini harus diimbangi dengan kepedulian terhadap aspek kesehatan diri.





PT Kimia Farma (Persero) Tbk (Kimia Farma) menjawab tren ini dengan konsep terbaru health and beauty outlet di Surabaya.  Kimia Farma yang sudah kuat dengan jaringan apotek yang menyediakan produk dan layanan kesehatan, kini mulai mengembangkan sayap ke ritel kecantikan dan kesehatan.





Kimia Farma Health & Beauty hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat khususnya kalangan milenial dan profesional yang bergaya hidup aktif, dinamis, dan serba praktis. Dengan desain dan nuansa industrial look, outlet ini menyajikan produk-produk kosmetik, skin care, personal care, hair care, dan suplemen kesehatan yang lebih variatif. Untuk pertama kali, Kimia Farma Health & Beauty diresmikan di Mall Tunjungan Plaza 3 lantai LG no. 16-17, Surabaya, Jawa Timur, sekaligus menjadi yang pertama di Indonesia. 





“Kehadiran ritel kecantikan dan kesehatan Kimia Farma Health & Beauty ini sebagai wujud komitmen Kimia Farma untuk mengajak seluruh masyarakat Indonesia agar senantiasa berpenampilan cantik dan tetap sehat. Di gerai ini tidak hanya merek dari Kimia Farma saja, namun kami juga menyuguhkan beraneka macam produk lifestyle dari brand-brand lain,” kata Direktur Utama PT Kimia Farma (Persero) Tbk, Honesti Basyir seperti disampaikan melalui pers rilis (30/03/2019). 





Menariknya, Kimia Farma Health & Beauty memberikan pengalaman baru bagi para pelanggan melalui implementasi digitalisasi. Di samping menggunakan price tag (label harga) di setiap etalase untuk memberikan informasi harga yang up-to-date, para pelanggan juga diharapkan untuk melakukan cashless payment dengan menggunakan aplikasi pembayaran digital Link Aja, GoPay, dan OVO. Lebih lagi, terdapat penggunaan QR Code sebagai media penyampaian ragam informasi secara cepat dan lengkap.





Lebih jauh disampaikan Basyir, tren bisnis ritel untuk produk health care and beauty secara nasional dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan pertumbuhan yang bagus yakni mencapai 10%-11%. "Kami melihat ada ceruk pasar kecantikan yang masih sangat besar karena tuntutan zaman dan gaya hidup masyarakat baik kaum hawa dan adam. Untuk itu kami akan fokus masuk ke segmen ini meskipun selama ini kami lebih banyak di produk obat," ujarnya.





Dia mengungkapkan, kinerja penjualan produk health and beauty mampu tumbuh sampai 40% pada tahun lalu. Sejumlah produk kecantikan yang selama ini menjadi andalannya seperti Mars dan Venus. "Dengan membangun outlet-outlet di dalam mall, kami berharap penjualan produk kencantikan kami bisa tumbuh 20%-30% tahun ini," katanya.





Pada tahun lalu, Basyir mengatakan, kontribusi penjualan Kimia Farma dari produk kecantikan masih sekitar 10%-15%. Seiring dengan pertumbuhan penjualan dan ekspansi bisnis ritel, diharapkan tahun ini kontribusinya bisa meningkat menjadi 20%. Ke depan pihaknya akan gencar membangun outlet Health & Beauty di sejumlah kota. Paling tidak hingga akhir tahun ini pihaknya menargetkan bisa membuka sedikitnya 10 outlet





Dalam waktu dekat, ritel kecantikan dan kesehatan Kimia Farma Health & Beauty bakal merambah kota-kota besar lain di Indonesia, di antaranya Trans Studio Mall Cibubur dan Mall Vivo Sentul Bogor. "Nanti kami juga akan menyasar kota-kota besar di daerah seperti Bandung, Yogyakarta, Denpasar, dan sebagainya," ujarnya.





Sumber :
https://swa.co.id/swa/trends/kimia-farma-buka-konsep-terbaru-health-beauty





kost berantakan, kotor, dan kurang nyaman? klik jasa bersih kost jogja untuk mendapatkan solusi terbaik


Download >>

Update App